Pantai
Oleh : Tri handayani
Angin
berhembus dengan lembut
Membuat
hati tenang dan damai
Kapal-kapal
mulai bergerak
Nelayan
mulai berlayar
Air bergelombang menghampiri
Mentari menyentuh dengan tajam
Seakan terasa sekali sentuhannya
Oh
pantai . . .
Rasanya
tak ingin menjauh darimu
Pasir
yang selalu terkena air
Air
yang selalu bergerak
Menyejukkan suasana
Kalau kau sirna
Bumi pertiwi tak indah
Pantai . . .
Manusia akan merawatmu
Dengan sebaik-baiknya
Lantas
aku ingin kesana
Merasakan
. . .
Betapa
indahnya pantai
Melihat
ombak berdesir
Bersyukurlah
pada Maha Indah
Telah
memberi anugerah
Yang
tiada duanya
Simfoni Rumah Hijauku
Oleh : Tri Handayani
Indah nyaman
terbayangkan
Saat aku
membuka mata
Kau sangat
jernih
Bagaikan air yang bersih
Bila aku
merawatmu
Kau akan
berikan indahnya padaku
Hingga kau
yang dulu kaku
Menjadi kuat
sepertiku
Tak kusangka
Kau bisa tenangkan hatiku
Bila manusia menyakitimu
Kau kan merasa terluka
Setelah ku pergi ujung sana
Tapi tak usah
khawatir
Dari hari ke
hari
Manusia kan
terbangun dari tidurnya
Betapa
lingkungan sejuk di raga
Dimana hari
maut menjemputku
Kau tak kan
pernah mati
Tuk teman
hidupku di hari nanti
Lingkunganku
Oleh : Tri Handayani
Sekilas kau pancarkan indahmu selalu
Tapi sekarang …
Kau tinggal kenangan
Kau sudah tidak berarti lagi
Manusia
tiada mengenalmu
Manusia
tak peduli apa yang kau rasakan
Manusia
tak membuat senang
Hanya
sebuah harapan yang dinanti
Kau
dibiarkan begitu saja
Nasibmu
sangatlah malang
Berapa
pengorbananmu
Tuk
tetap jadi lingkungan
Kanku
wujudkan mimpimu
Harapanmu,
perjuanganmu
Selalu
bersamamu
Lulus Sekolah
Oleh Tri Handayani
Selama ini kucari – cari
Sejuta ilmu yang terpendam
Tiap pagi aku pergi
Kau selalu teringat
Tak
sadar jarummu melangkah pasti
Hingga
akhirnya …
Pergi
…
Membawa
prestasi yang luar biasa
Tuk
bisa capai hidup
Ku duduk dalam hatiku sebagai sahabat
Kedekatanku padamu tak dapat terpisah
Kita saling membutuhkan
Meskipun berat mencekung punda
Demi masa depan
Syair Daun Menggambar Luka
Oleh : Tri Handayani
Datanglah
musuh perang
Menghantam
banyak orang
Pikirkan
dengan kasih saying
Tak
tahu orang pun menyerang
Menyerah jauh dari semangat
Sebelum rumah membara sangat
Api yang panas jadikanlah ingat
Sebelim rasa membuat sekarat
Mudah Memakan semangka
Tak bisa menghitung angka
Sebagian dicuri si tua Bangka
Pintu ambang – ambang ditutup
dan dibuka
Separuh raga ikut
menyumbang lara
Menusuk hati para
pentara
Tak kuasa membuat cara
Tak bisa duga walau sedalam samudra
Tidak ada komentar:
Posting Komentar